Selasa, 23 Januari 2018

Untukmu, yang Setia Memperhatikanku

Kau punya sesuatu yang ingin orang lain agar mengerti
Tapi kau berbicara terlalu keras atau terlalu tajam
Kalau tak bicara, menulispun menyakiti dan tak enak dibaca
Akhirnya, orang jadi takut dan malas menanggapi (walau sekadar mencoba mendengar ataupun membaca)
Apa yang kau lakukan hanya menjadi hal tak berguna
Kicauanmu gak penting jadinya
Tapi gakpapa...
Kayaknya kamu senang kayak gitu
Aku sih miris.

Minggu, 10 Desember 2017

Orang Idealis Dilarang Membaca

Saya merenung pada kegagalan diri, bertanya-tanya entah pada siapa. Akhir zaman ini, banyak orang mengingatkan orang lain dengan caranya, mungkin tidak selalu menggunakan cara terbaik namun sering mereka katakan dengan “caranya”. Ada yang dengan emosi kemarahan, menggunakan kata kotor atau kata kasar, mengkritik di depan umum dengan nada keras dan menyinggung, sampai membuka aib orang lain, mengatakan alasannya demi untuk pembelajaran orang lain, lalu mereka melindungi caranya dengan pembelaan “ya ini caraku”, “ya biar ada dinamika”, “ini idealismeku”, dan lain-lain. Kalau kita tinjau kembali pada cara Rasulullah, yaitu tutur kata serta perbuatannya, beliau adalah pendakwah yang lembut. Tidak pernah berkata untuk menyakiti seseorang, menutupi aib saudaranya, menasihati orang dengan tidak kasar dan tidak mempermalukan di depan umum, tidak keras kepala, jika dakwahnya gagal maka beliau mengevaluasi diri sendiri bukannya orang lain, jika cara beliau dikritik maka beliau tidak akan mengkritik balik orang lain, melainkan menerima dan senantiasa memperbaiki caranya. Bayangkan, orang termulia dengan cara terindah seperti itu saja, di zaman dahulu yang belum seperti sekarang, masih saja tidak sepenuhnya dakwah beliau diterima. Masih ada tentunya orang-orang yang tidak mengakui dan bahkan menolak secara terang-terangan. Jika melihat akhir zaman seperti sekarang, dimana pengikisan nilai-nilai luhur telah banyak terjadi, jika tidak mengikuti cara Rasulullah melainkan menggunakan cara yang keras, kasar, atau tidak lemah lembut, pertanyaannya apakah kemungkinan bisa lebih berhasil kalau kita ingin menyampaikan kebaikan itu? Ataukah memang kita sebenarnya sudah tahu jika terkadang cara kita kurang efektif, tetapi ada niat lain di situ yaitu hanya ingin memuaskan hasrat ego semata? Oh, saya harus berbenah diri. Saya juga tidak mengatakan diri saya orang baik, saya hanya senantiasa berusaha ingin menjadi lebih baik.

Minggu, 29 Oktober 2017

Manajemen Akuakultur

 Manajemen Akuakultur         Manajemen akuakultur adalah perencanaan, pengaturan, pengoordinasian, dan pengontrolan sumber daya dan beberapa aspek yang bersangkutan dengan akuakultur guna menciptakan kondisi yang ideal pada sistem budidaya perikanan. Ilmu manajemen dalam akuakultur sangat dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan dalam budidaya. Manajemen akuakultur mengajarkan beberapa hal berkaitan dengan pengetahuan yang harus dimiliki oleh pembudidaya, beberapa di antaranya adalah proses pengangkutan, aklimatisasi, dan uji stres.
 Proses pengangkutan termasuk teknik penting yang harus diketahui oleh pembudidaya, karena jika proses pengangkutan gagal maka benih yang diangkut untuk kebutuhan budidaya akan mati. Proses pengangkutan menggunakan suhu rendah untuk meminimalisasi benih budidaya dari gangguan stres. Es batu digunakan untuk proses pengangkutan ikan, namun kebutuhan es batu harus diperkirakan agar ikan tidak mati membeku. Penggunaan es batu dimaksudkan untuk menurunkan tingkat metabolisme pada organisme budidaya yang diangkut agar tidak banyak mengeluarkan tenaga. Kondisi suhu rendah akan mengurangi banyaknya tenaga yang terbuang dan dapat memperlambat proses metabolisme sehingga ikan yang diangkut dapat bertahan dalam kondisi yang cukup lama, mulai dari hitungan menit sampai hari sekalipun.
Aklimatisasi merupakan proses penyesuaian atau pengadaptasian fisiologis suatu organisme terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya. Aklimatisasi pada perikanan kerap kali berkaitan dengan suhu. Ikan yang baru datang dalam kondisi dalam plastik pengemasan, idealnya sebelum ditebar ke akuarium, kolam, atau tambak baiknya dilakukan penyesuaian suhu air dalam plastik kemasan ikan dengan air yang berada pada media di luar plastik kemasan. Aklimatisasi dilakukan dengan mencelupkan plastik berisi air dan ikan ke media air tempat ikan dipindahkan. Tanda jika suhu luar dan dalam sudah sama, yaitu terjadi pengembunan pada plastik pengemasan. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar saat ikan yang umumnya pasti mengalami stres dalam proses pengangkutan, tidak mengalami shock atau kaget saat dipindahkan ke media air lain. Stres dalam organisme budidaya perairan dapat mengakibatkan dampak yang sangat fatal bagi organisme budidaya.
Uji stres dan ketahanan pada organisme budidaya juga merupakan dua hal lain yang harus dimiliki pembudidaya di samping teknik pengangkutan dan aklimatisasi pada benih ikan atau udang. Uji stres yang dilakukan biasa menggunakan garam atau formalin. Dua uji ini biasa dilakukan pada  benur (benih udang) atau nener (benih bandeng) yang akan ditebar untuk dibudidaya. Uji menggunakan garam merupakan uji penyesuaian salinitas yang berbeda pada ikan. Salinitas menentukan kemampuan ikan atau udang dalamn mengatur sistem osmoregulasi pada ikan, jika ikan atau udang yang diuji pada salinitas berbeda tetap hidup maka benih ikan atau udang tersebut layak digunakan. Uji salinitas dilakukan pada perbedaan yang tidak terlalu mencolok, biasanya berbeda 5 sampai 15 ppt. Uji menggunakan formalin dilakukan dengan konsentrasi dan waktu tertentu. Konsentrasi formalin yang digunakan bisa 100 ppm dengan waktu mulai dari 5 menit sampai 30 menit. Uji menggunakan formalin ini untuk menentukan benih udang sehat atau tidak, serta bisa menghilangkan penyakit yang menempel pada benur.
Praktik lainnya pada manajemen akuakultur adalah memelihara ikan di akuarium dan juga di kolam budidaya secara langsung. Pemeliharaan ikan di akuarium dilakukan dengan pengontrolan kualitas air secara terkontrol setiap hari dengan indikator terkontrol seperti pH, suhu, amoniak, DO atau oksigen terlarut. Pakan yang diberikan pada ikan budidaya juga harus dihitung seberat 3% berat tubuh dan dilakukan juga penghitungan FCR atau rasio perbandingan pemanfaatan pakan dengan pertambahan berat tubuh. Berat dan panjang ikan juga diamati untuk mengetahui seberapa sukses perkembangan ikan yang dibudidaya. Budidaya ikan pada kolam dengan membuat tanjaran mempunyai kondisi lingkungan yang lebih ekstrim lagi. Pengontrolan kualitas air seperti pH, suhu, DO tetap harus dilakukan, namun kondisi alam yang tidak bisa selalu dikontrol, kualitas air yang lebih dinamis, serta predator yang tidak terduga bisa jadi penghambat dalam budidaya. Budidaya adalah seni, seniman itu adalah KITA.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Pemuda Zaman Now

Pemuda, zaman sekarang…
Yang hidup dimana banyak terjadi pergeseran nilai dan budaya.
Ya mungkin pelaku pergeseran tersebut adalah pemuda.
Suka menyalahkan, namun tidak mau memperbaiki diri.
Buat tulisan kritikan dan hinaan namun tak berani terlibat diskusi langsung, pengecut.
Membahas tentang peran pemerintah dalam menangani banjir dan polusi, eh sadar dulu sudah kontribusikah kau dalam kebersihan lingkungan? Jangan-jangan kau juga perokok, yang mana berperan secara langsung mengotori kebersihan udara seseorang untuk bernapas, lalu putungnya kau buang sembarangan sehingga mengotori lingkungan!
Segala filosofi kau hubungkan dengan kopi, eh kenapa tidak air putih saja yang merupakan pelarut universal dan memiliki filosofi jiwa yang bersih. Kopi itu tidak bagus jika sering diminum, bisa melarutkan kalsium dalam tubuhmu sehingga mengganggu pertumbuhan tulangmu.
Masih kayak kuning telur mentah aja beraninya pacaran, iya kalo pake uang sendiri. Kalo uang orang tua sih, eh ya kecut. Apa? Pake uang sendiri? Yauda nikahi aja, buat apa lama-lama. Mau menikmati pacarmu dulu ta? Katanya sayang, kok seperti itu caranya? Makan tuh cinta.
Buat meme dan misuh-misuhin koruptor dan pejabat negara. Pernah kuliah titip absen gak? TA itu salah satu bentuk korupsi kecil lho. Kuliah suka bolos dan titip absen aja ngece koruptor. Cuih.
Geng-gengan? Healah sudah gak zaman! Benci satu orang, satu geng rasan-rasan. Benci sana benci sini, ada satu orang yang buruk, lainnya bukannya mengingatkan kebaikan eh malah ikut-ikutan. Kok seperti anak SD ya.
Mungkin beberapa berspekulasi jelek dan melakukan penghinaan tentang sistem birokrasi dan administrasi, emang sudah pernah jadi birokrat atau semacamnya? Kalo belum tau, belajar dulu biar gak keliatan bego saat mengkritik.
Sukanya menghina pemimpin institusi, kota, provinsi, bahkan sampai negara. Buset lengkap dah. Orang dihina berubah? Enggak. Kita menghina dapat pahala? Enggak. Kalo mendoakan orang, bisa berubah? Bisa aja. Dapat pahala? Jika ikhlas bisa saja dapat. Lalu kenapa tidak kau doakan?
Sukanya ngomong cak cuk cak cuk, daripada meso-meso gitu mending diganti sama kata-kata yang baik. Meso gak duso kok, digawe bahasa akrab konco. Yo kan iku seng meso bro, lek seng ngrungokno risih kon gak ngerti kan.
Sukanya bilang sana sini apatis, gak mau kontribusi, dan bahasa bahasa nista lainnya. Kamu membuang sampah dan merokok bukannya bentuk kontribusi apatis secara langsung ya? Lingkunganmu jadi kotor, orang yang kena rokok di sekitarmu jadi sesak napas. Kau saja yang tidak peka.
Sibuk menghina model penampilan seseorang, coba dilihat bajunya sendiri sudah memenuhi syariat belum.
Sukanya menyalahkan apa yang orang lain kasih, bukan apa yang kita kasih. Oy kesadaran diri, kalo mentalnya minta-minta ya gak bakal dapet apa-apa. Semua tergantung diri sendiri.
Pelajar sekarang mah kalo disindir mengejar nilai biasanya rasan-rasan dosen di belakang dan gak terima, tapi buktinya gak mau bolong absennya dan TA demi nilai softskill, ujian saling nyontek. Udah jelas kan apa yang dikejar.
Mungkin mayoritas pemuda zaman now males mikir...


Mau mencibir penulis dan tulisan ini? Boleh saja, tapi sebelumnya tolong merenung dulu dan beri kritik saran secara sopan dan terbuka. Jangan mengulangi keburukan seperti salah satu contoh di atas lagi.

Selasa, 19 September 2017

Apatis Me

Siapa yang tak panas dibilang apatis? Jika ada orang yang memang benar-benar apatis pun, pasti akan marah kalau dicap apatis. Bunyi dari kata apatis sepertinya sangat sensitif bagi pendengarnya. Selasa malam 19 September kemarin adalah pertama kalinya kemesraan kumpul konco bareng. Bahasannya bisa dibilang konsep santai, namun makna bahasan tersebut bisa juga menjadikan orang yang membahasnya menjadi tidak santai, sehingga terkadang ada celetukan “Santai Wae”. Kumpul konco ini ya forumnya anak FPK UNAIR, bukan forum salah satu badan organisasi atau pihak tertentu saja. Baik. Intermezzonya sudah cukup, mari kita masuk ke topik kajian. Eeeh, topik cangkruk!!!
Semua peserta cangkruk yang hadir pada malam itu bersatu padu tanpa membawa jabatan atau kedudukan apapun, semuanya sama rata sama rasa sebagai keluarga. Berbagai argumen mulai menghangatkan jalannya agenda cangkruk pada malam itu. Arti apatis mendapat gambaran tersendiri dari berbagai individu. Ada yang menyebutnya pandangan, proses, sifat buruk, ketidakpedulian, stigma, bahkan ada yang mengatakan apatis itu tidak ada. Apapun argumen teman-teman pada waktu itu, semua sebenarnya adalah satu titik yang sama. Hanya bolpoin dan cara menitiknya saja yang berbeda. Keragaman karakter menyebabkan keragaman pendapat, keragaman pendapat mewarnai kemesraan cangkruk malam itu.
            Saya menyumbang sedikit pendapat dalam percakapan malam itu bahwa apatis adalah proses, pandangan, dan kurang kepedulian pada sekitar. Mayoritas yang hadir tidak menyanggah hal tersebut, namun satu hal yang saya tidak setuju adalah bahwa apatis itu tidak ada. Apatis menurut pendapat saya tetap ada, tetapi dalam contoh hal yang sangat sederhana semisal membuang sampah sembarangan dan tidak mengatur etika merokok. Saya tidak menyalahkan untuk teman-teman yang jarang aktif ikut berdiskusi ataupun tidak aktif organisasi serta kepanitiaan, karena pada dasarnya manusia punya kesibukkan berbeda untuk berkembang dan jalan sendiri untuk berkontribusi. It’s okay, mereka semua benar dan saya sama sekali tidak memaksakan argumen saya untuk menjadi argumen yang paling perfect sebagai ajang pamer intelektual. Argumen sing bener iku yo sing “enak dan isok diterimo” bareng.
            Terlepas dari arti apatis berdasarkan dari sudut pandang manapun, saya sangat bangga kepada teman-teman yang hadir pada malam itu karena dengan kehadiran itu, menurut saya teman-teman layak disebut tidak apatis karena minimal sudah mau hadir dan membahas tentang apa itu apatis atau apatis, me. Romantisme cengkrama semakin terbentuk diselingi alunan gitar dan nyanyian salah satu mahasiswa keluarga FPK. Dinamika cangkruk pada malam itu lumrahnya naik turun berdasarkan tipe-tipe pendapat yang dilontarkan, namun alur diskusinya tetap diarahkan untuk mencapai tujuan utama pada malam itu. Yaitu bahagia dan melepas duka lara.
Saat memasuki inti akhir pembicaraan, kesimpulan tema yang diusung yaitu “apatis me” sebenarnya adalah sebuah renungan bagi insan-insan yang hadir pada malam itu. Apapun apatis itu, semua kembali lagi ke diri kita. Apatis me. Apatiskah aku? Apa aku sudah memberikan kontribusi yang maksimal bagi lingkungan dan orang sekitarku? Yah, intinya kalau mau melakukan perbaikkan diri ya memang harus sering merenung. Semoga idealisme mahasiswa-mahasiswa yang membara seperti ini tidak mati, tetap  hidupkan budaya diskusi dan berpikir di FPK UNAIR.

Senin, 18 September 2017

Pentingnya Ilmu Kewarganegaraan

         Pendidikan kewarganegaraan adalah ilmu yang harus dipelajari tiap warga negara. Ilmu kewarganegaraan sangat penting mengingat banyaknya konflik atau pergeseran budaya maupun norma yang terjadi di suatu negara. Revolusi teknologi yang kini kian berkembang adalah salah satu penyebab terjadinya globalisasi yang mengakibatkan dunia seolah menjadi tanpa batas dan informasi apapun mudah diakses. Telekomunikasi yang berkembang menyebabkan terjadinya percepatan jalan sejarah, perkembangan transportasi juga menyebabkan dunia seakan menyempit, turis yang berdatangan dengan mudahnya melakukan perdagangan sehingga budaya-budaya eksternal masuk ke Indonesia dan menyebabkan tercampur aduknya budaya lokal hingga melemahnya identitas bangsa Indonesia terjadi secara perlahan. Dunia yang tanpa batas dapat menjadi sebab kosmopolit, munculnya multinational corporation, dan liberalisasi. Global paradox juga menyebabkan kondisi perusahaan besar melemah karena banyak karyawan ingin naik gaji, perusahaan kecil seperti gojek menjadi kaya fungsi karena ketatnya persaingan yang mendorong harus berpikir kreatif, dan pekerja yang unggul akhirnya banyak dicari. Konflik budaya yang juga sering terjadi pada bangsa ini yaitu ortodox, barat, muslim, dan lain-lain disertai konflik kekerasan seperti militer dan dinamika gejolak demokrasi di negara maju. Permasalahan tersebut tentunya merupakan suatu perhatian besar yang harus diselesaikan apabila suatu negara ingin damai dan sejahtera.
Indonesia adalah negara yang terdiri dari bermacam-macam karakter masyarakat. Karakter merupakan sikap atau pola perilaku suatu individu. Sikap dipengaruhi oleh sifat batin manusia. Sifat batin manusia sendiri disebut watak. Karakter masyarakat menciptakan atmosfer budaya yang terjadi di suatu daerah atau negara. Karakter yang berintegritas merupakan salah satu kunci sukses majunya sebuah negara. Karakter dan watak merupakan pembentuk jati diri sebuah negara. Indonesia sendiri mempunyai undang-undang yang bertujuan mulia untuk memajukan karakter dan watak warga Indonesia, salah satunya adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab 2 Pasal 3 yang berisi tentang tujuan pendidikan nasional untuk membentuk watak.
Indonesia pada tahun 2012 memiliki visi menjadikan masyarakat yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, sejahtera, maju, mandiri, baik, bersih dalam penyelenggaraan negara. Visi tersebut dibangun demi mendukung kualitas sumber daya manusia untuk memenuhi persyaratan kerja era global yang harus memiliki etika, memahami karakter serta luwes dalam bekerja secara tim, dan mempunyai intelektualitas. Pentingnya pendidikan kewarganegaraan di masa modern ini selain untuk membina warga negara agar cinta tanah air, juga agar warganya siap berkorban secara totalitas sepenuh jiwa untuk negara. Urgensi pendidikan kewarganegaraan juga untuk melahirkan era demokrasi, pemahaman kerja demokrasi, serta mengubah paradigma negatif. Contohnya dulu mahasiswa hanya dianggap sebagai objek, doktriner, sentralistik, antidialog, dimana hal tersebut masih tergolong paradigma feodalistik. Sekarang, mahasiswa lebih dianggap sebagai subjek perilaku, dialogis, dan elemen potensial yang hal itu sudah termasuk paradigma humanistik.
Jati diri yang membentuk wajah bangsa, budaya, serta kekhasan yang terdapat pada suatu negara menciptakan sesuatu yang dinamakan identitas nasional. Unsur pembentuk identitas nasional sendiri meliputi sejarah bangsa, suku, agama, budaya, bahasa. Lagu kebangsaan Indonesia Raya, Pancasila, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan contoh dari pembentuk identitas nasional di Indonesia. Identitas nasional tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Identitas nasional dengan dasar keseragaman harus diimbangi dengan semangat nasionalisme agar tetap kokoh dan untuk membentengi negara.
Nasionalisme merupakan paham tentang kebangsaan dimana harus ada jiwa yang setia serta totalitas pengabdian, aplikasinya mencintai serta semangat membela tanah air. Nasionalisme mulai lahir pada zaman kolonialisme, saat Indonesia terjajah bangsa asing dan rakyat mengalami kesulitan bersama, maka jiwa-jiwa patriotisme pembela tanah air yang mempunyai tujuan bersama mulai muncul. Seiring berjalannya waktu, Indonesia saat ini sedang mengalami krisis yang sedikit demi sedikit mulai menurunkan nilai nasionalisme, yaitu krisis multidimensi (identitas) yaitu turunnya moral, kepemimpinan, budaya. Tantangan kehidupan juga muncul dari sisi eksternal yaitu globalisasi dan modernisasi yang menjadikan pribadi menjadi individualis serta pragmatis. Tantangan dari sisi internal yaitu dari unsur pembentuk identitas nasional bangsa itu sendiri. Adapun gangguan internal lain yang dapat merusak hidup bangsa, di antaranya primordialisme (membanggakan suku berlebihan), radikalisme (sikap bebas sendiri secara berlebihan), sektarian (beragama namun tidak toleran), dan melupakan keadilan sosial.
Solusi dari beberapa permasalahan di atas adalah pemberdayaan identitas nasional, yaitu dengan merevitalisasi pancasila. Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang tersusun dari beberapa unsur yaitu perilaku, lambang bendera, dan tujuan. Revitalisasi pancasila dapat dilakukan pada dimensi realitas yaitu menanamkan sebagai cerminan hidup sehari-hari dengan menyisipkan nilai positif dari pancasila ke dalam institusi pendidikan, menekankan idealisme pancasila sebagai pemberi semangat, serta menekankan nilai fleksibilitas pancasila secara terbuka. Hal itu tentunya juga harus dikuatkan dengan dukungan hukum. Pancasila harus selalu direvitalisasi dan diimplementasikan dalam kehidupan karena pancasila merupakan capaian demokrasi, konsensus nasional, dan pemersatu. Indikator keberhasilan dari nilai pendidikan kewarganegaraan bisa dilihat dari penghormatan sesama manusia, partisipasi politik, penyelenggaraan negara secara profesional, budaya dan perilaku sportif, serta etika baik yang tertanam di setiap elemen masyarakat. Mahasiswa yang pintar didasari moral adalah aplikasi dari nilai pancasila, pedagang bakso yang jujur adalah aplikasi dari nilai pancasila, karyawan yang rajin juga termasuk aplikasi dari nilai pancasila. Jadi, renungan penutup dan intisari dari tulisan ini adalah karena ketahanan bangsa butuh landasan yang kuat, maka nilai pendidikan kewarganegaraan dan revitalisasi Pancasila harus selalu digencarkan untuk menguatkan identitas dan nasionalisme bangsa. Budaya diskusi juga sangat penting dan harus dikembangkan sebagai solusi untuk menghindarkan rakyat dari kebodohan.


Pesan untuk warga Indonesia :
“Rakyat yang bodoh akan maju bila dipimpin oleh pemimpin berintegritas, namun rakyat yang cerdas akan lembek jika dipimpin oleh pemimpin bodoh.”
Antitesis
“Moral pemimpin adalah akumulasi dari sifat rakyatnya”
Kesimpulan
“Maka, jangan tanya apa yang pemimpin berikan padamu, jangan pula suka mencela pemimpinmu. Kritik dan saran untuk orang lain memang hak, namun saling memperbaiki diri yang utama. Mari instropeksi diri masing-masing untuk mencapai suatu kemajuan bersama.”

Minggu, 06 Agustus 2017

Teruntuk Wanita

“Salam untuk para wanita”
Hai Wanita..
Janganlah Engkau banyak mengghibah orang lain.
Berbicaralah yang perlu, diamlah jika berkata tidak memberi manfaat,
karena nantinya Engkau adalah sosok yang akan mendampingi suamimu,
mengayomi dengan penuh kesabaran.
Mendidik penerus bangsa dengan penuh keikhlasan.
Redakan emosi suamimu, jangan Engkau menjadi anjing penyulut konflik.
Didiklah anakmu dengan baik dan santun.
Berbicaralah yang baik-baik, jangan menjadi hewan penggerutu.
Bagaimana perjalanan sebuah keluarga apabila seorang istri nantinya tidak bisa meredakan emosi.
Akan hancur sebuah keluarga apabila seorang wanita hanya menjadi penyulut.
Akan labil seorang anak jika mencontoh tingkah laku ibunya yang tidak bisa berlaku sebagaimana tugas seorang ibu, mengayomi dan mendidik dengan baik.
Jangan takut dicibir wanita lain jika Kau dianggap tak seperti mereka yang suka menggosip,
karena hakekat wanita bukan banyak berbicara.
Diam itu emas adalah utama.
Prinsip kebijaksanaan tidak bisa terhapus oleh kultur yang menyimpang.
Jadilah wanita yang berbeda.
Karena wanita adalah tonggak kemajuan bangsa.
Laki-laki tanpa wanita cerdas di sampingnya tak akan menjadi laki-laki hebat.
Anak tanpa kesantunan dari seorang Ibu hanya akan menjadi debu.

Sabtu, 01 Juli 2017

Ghazwul Fikri

Mari kita sedikit membahas tentang organisasi bernama ISIS. Saya bertaruh Anda langsung terbayang dengan pemberontakan, bom, perang, bahkan pembunuhan karena kerap kali media memberitakan ISIS sedang dalam pertempuran dengan negara - negara besar. ISIS (mungkin) adalah sekelompok orang Islam yang berasal dari Irak dan Suriah. Lah tapi ISIS sebenarnya siapa? Apa tujuan mereka? Mengapa kok mereka diperangi? Siapa yang mendukung dan membekali mereka? ISIS itu orang-orang murni Islam mujahid fi sabilillah atau teroris sih? Eksistensi ISIS menyebabkan pergolakan di dunia bahkan sampai berhubungan dengan pandangan terkait Islam. ISIS menganggap kaum yang berseberangan dengannya sebagai takfiri alias kafir. Sebaliknya, pejuang di Suriah yang sampai sekarang bergelut melawannya malah menganggap ISIS sebagai kelompok khawarij. Kini sekelompok gerilyawan yang dianggap teroris internasional terkaya tersebut ingin menguasai eropa BAHKAN DUNIA! 
Kali ini hal yang ingin penulis bahas bukanlah sejarah atau kisah si ISIS, namun "kita dan ISIS". Tanpa disadari kita semua berkembang menjadi individu maupun suatu golongan masyarakat yang idealis, ngakunya berprinsip. Oke. Namun siapa sangka, di era modernisasi ini banyak substansi dan esensi yang mulai luntur. Kita dibutakan oleh sesuatu yang bernama media, padahal tugas utama media adalah menyebarkan berita dan membebaskan masyarakat dari kebodohan.
Selama ini kita selalu menganggap bahwa kita Islam yang benar, sedangkan ISIS adalah Islam tidak benar. Yakinkah kita dengan anggapan kita sendiri? Adakah yang berani menjamin bahwa kita adalah yang benar dan mereka yang salah? ISIS yang selama ini kita lihat adalah sekelompok gerilyawan yang suka membunuh, tapi yang saya lihat mereka memperjuangkan Islam. Baiklah jika Anda tidak sepakat mereka memperjuangkan Islam, namun coba lihat aksesoris yang mereka pakai dan hal yang mereka lakukan. Coba bandingkan aksesoris hedon yang kita kenakan dan hal-hal apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Kita lebih baik? Mungkin beberapa pendapat masih menganggap kita kaum elitis yang paling benar. Kita yang selama ini hidup di era modernisasi, mengaku sebagai orang benar yang tidak seperti mereka namun tidak banyak hal berarti yang kita lakukan. Lantas kita menyebut mereka mutlak salah dan kita pasti benar? Saya di sini bukan golongan ISIS atau semacamnya, juga bukan golongan Islam moderat, Islam abangan, Islam kejawen, dan lain sebagainya. Saya adalah orang Islam. Saya hanya ingin mengajak para pembaca untuk memutar otak dan merenung dengan batin masing-masing dengan tulisan ini. Saya ingin kita semua BERPIKIR.
Saya takut dengan pernyataan "Islam datang kepada manusia dengan keasingan dan akan kembali dalam keadaan asing". Itu kata-kata yang selalu saya renungkan dalam diri sendiri. Kita sekarang sedang berada di akhir zaman, tidak mustahil bahwa sebentar lagi mungkin Islam yang sebenar-benarnya akan atau sudah berada dalam kondisi "asing". Bagaimana jika ternyata ISIS adalah yang dimaksud kaum Islam minoritas akhir zaman yang terasingkan itu? Bagaimana jika kita justru termasuk kaum mayoritas yang termasuk golongan orang-orang munafik? Siapa tahu, media sekarang mudah dalam membolak-balikkan fakta. Kita tidak tahu pasti apa yang terjadi di luar sana, mungkin saja ISIS memang salah atau mungkin saja kebenarannya diselewengkan. Kita di sini sedang asiknya berhura-hira, sedangkan di sana susah payah berjuang. Lalu kita anggap diri kita yang benar dan mereka yang salah. Tak ada yang tahu siapa yang benar atau salah. Siapa tahu...
Kebenaran hanya milik Allah SWT, tugas kita hanyalah terus berpikir, berusaha, dan berjuang. Yang tahu atas kebenaran tersebut juga hanya Allah SWT. Wallahu a'lam.

Jumat, 28 April 2017

Aroma Khas Pengkhianat

Pada suatu pagi yang lembab disertai embun berkabut, datang sebuah kapal muatan yang mengangkut banyak hewan. Saat moncong kapal menyentuh dermaga, segera pintu kapal dibuka. Para hewan keluar dengan tenang, berbaris rapi, ada yang dirantai dengan hati-hati. Proses penurunan hewan awalnya berjalan mulus, tetapi karena kurangnya koordinasi, akhirnya beberapa hewan yang tak dikawal pun melarikan diri. Beberapa berhasil ditangkap, namun ada yang berhasil kabur lalu sembunyi atau entah pergi kemana. Seekor kambing muda nan lincah berhasil sembunyi di semak belukar yang tinggi serta rimbun tak jauh dari dermaga. Sang kambing berkamuflase dibalik gegap gempita aktivitas para manusia di kala itu.

Tak terasa sudah dua hari sang kambing bersembunyi di bawah semak belukar itu, rasa lapar mulai menerpanya. Dalam hati, sang kambing berpikir “Ah, lebih baik kumakan saja rerumputan ini agar aku tak mati kelaparan.” Tiba-tiba sang rumput berkata, “Lebih baik jangan kau makan aku, jika aku tidak rimbun lagi maka persembunyianmu akan terbongkar.” Mendengar hal itu maka sang kambing berpikir, “Benar juga, kalau aku memakan rumput ini terlalu banyak maka aku bisa terlihat. Namun jika kumakan sedikit apa salahnya, toh nanti rumput itu akan tumbuh lagi.” Dengan nggeragas si kambing itu memakan rerumputan, lupa dirilah si kambing itu sampai memakan terlalu banyak karena rakusnya. Si rumput menjawab, “Sudah Mbing, aku khawatir diriku ini lama-lama akan habis dan kau akan ditangkap karena tidak ada yang menutupimu lagi.”Si kambing pun terharu, akhirnya sang kambing memutuskan untuk puasa beberapa hari tanpa makan.

Hari demi hari silih berganti, si kambing mulai kering kerontang karena tak mendapat asupan makanan yang cukup. Kembali si kambing ini berpikir, “Kalau aku menunggu tumbuhnya rumput, lama-lama aku bisa mati kelaparan. Lebih baik kumakan lagi, toh rumputnya masih lebat dan nanti juga akan tumbuh lagi.” Akhirnya sang kambing pun memakannya kembali. Si rumput yang menyadari bahwa si kambing memakannya kembali, mulai menitihkan air mata. “Hai Mbing, hari demi hari kelebatan diriku semakin berkurang, sedangkan Engkau tidak henti-hentinya memakanku. Aku takut nanti dirimu bisa terlihat oleh sekawanan manusia itu.” Si kambing yang tenggelam dalam nafsu tak menghiraukan perkataan si rumput, malah melanjutkan melahap santapannya. Dua minggu pasca kambing melarikan diri, semakin tipislah si rumput. Semak belukar yang tadinya banyak rerumputan menjulang tinggi, kini sudah tak seperti dulu kala. Tiap orang yang melewati semak belukar itu, mulai curiga jika ada sesuatu dibalik semak itu. Sang kambing yang baru menyadari hal tersebut, mulai resah karena pertumbuhan rumput itu lebih sedikit daripada jumlah porsi yang dimakannya. Waktu terus berjalan, tersiksa oleh kesepian dan ketiadaan pangan membuat kambing stres berat serta dilanda dilema yang sangat pekat. Akhirnya, dengan akal pendek dan keputusan yang sembrono si kambing memutuskan tuk memakan lagi rumput yang tersisa untuk memenuhi hasrat perutnya. Si rumput lalu menangis tersedu-sedu dan mengatakan ucapan perpisahan, “Mbing, maafkan aku. Sepertinya setelah ini aku akan habis karena Engkau tak henti-hentinya memakanku, mohon maaf juga jika pertumbuhanku lambat dan tidak kuasa melindungimu lagi setelah ini karena kecepatan pertumbuhanku tidak sebanding dengan diriku yang kau makan. Aku akan selalu mendoakan apapun demi kebaikanmu nantinya, walaupun kau mengkhianati pertolonganku..”

Esoknya, datang beberapa manusia mengerubungi si kambing yang masih tertidur pulas karena kenyang setelah menyantap rerumputan. “Wah, sepertinya ini salah satu kawanan yang lepas dari rombongan kapal beberapa minggu lalu itu.” kata seseorang di situ. “Wah benar sekali, lebih baik kita bawa pulang saja kambing ini daripada  terlantar seperti ini.” Akhirnya salah satu di antara orang-orang itu pun membawa si kambing muda dan merawatnya di halaman rumahnya. Si kambing yang gelagapan awalnya, merasa bersyukur karena tidak disiksa oleh sekawanan manusia yang menemukannya. Beberapa bulan kemudian, si kambing muda tadi menjadi gemuk karena nutrisinya selalu dipenuhi oleh sang majikan. Setelah tenggelam dalam kebahagiaan, tiba-tiba kabar sial terdengar sampai ke telinga kambing bahwa sang majikan akan memakannya. Apalah daya si kambing yang dirantai oleh sang majikan sehingga tidak bisa kabur. Namun karena suatu hari sang majikan terbelit hutang, maka sang majikan pun memutuskan untuk menjual kambing pada seorang saudagar kaya di daerah tersebut. Setelah si kambing sampai di tangan saudagar tersebut, si saudagar itu langsung memanggil orang untuk menyembelihnya. Ternyata daging kambing tersebut akan dijadikan santapan bersama pada acara pesta perkampungan tersebut. Kambing yang awalnya kering kerontang dan dipelihara sampai gemuk, kini telah menjadi steak daging berbalut saus keju mayonaise. Kini kambing matang tersebut memiliki bau yang berbeda, khas aroma sang pengkhianat.

Berdasarkan cerita di atas, timbul sebuah pertanyaan besar yang sebenarnya menjadi dilema. Yaitu, jika kita menjadi kambing, maka hal apa yang akan kita lakukan?


Kamis, 27 April 2017

Abu Mewarnai Hari

Hiruk pikuk berkecamuk
Gelisah berpeluh tiada arah
Setumpuk hajat menggunduk
Menanti kebangkitan dari jiwa yang lelah

Kali ini, hajat itu menyangkut urusan hati
Sebagaimana hukum mutlak hidup dan mati
Rasa yang tampaknya tak dapat disanggah oleh logika lagi
Menjatuhkan diri ini ke dalam lubang keresahan berhari-hari

Mungkin ini salah satu puisi receh seorang remaja tak berkelas
Yang "mencoba" memadu emosi dengan dinamika berintuisi yang khas
Menata sekata demi kata tuk jadikan rangkaian kalimat puitis
Daripada membual janji-janji manis

Sebuah kisah, suatu momen yang melukis pilu. Sungguh, itu kusebut "cinta". Entah kenapa aku tak bergairah setelah mendengar kata itu, sepertinya ada serpihan yang terbawa di dalamnya. Ah salah, bukan cinta yang membawa serpihan perasaanku, namun cintalah yang menyebabkan perasaan ini hancur menjadi serpihan. Bukan begitukah cerpenis atau penulis novel romance zaman kini merangkai kata dalam satuan karya-karyanya tuk menghiburmu yang sayu-sayu dalam dilema?

Ceritaku dimulai saat kutemukan seseorang yang cantik dalam jelita serta mulia dalam perangai. Mungkin gadis itu terlihat begitu, mungkin memang faktanya begitu, atau mungkin opiniku yang dikuasai nafsu sehingga pandanganku terhadapnya menuju ke sana. Begitulah pikiran pemuda yang sedang dirundung asmara. Awalnya semua terlihat baik-baik saja, hingga entah apa yang membuat kami sering bertemu. Kebersamaan yang sering ini membuatku tak tahan, mengungkapkan rasa bagiku adalah suatu kesalahan sedangkan diam mematung seperti menenggelamkan diri dari bumi saja. Semakin terikat jalinan kasihku terhadapnya, hal itu semakin menyadarkanku akan kehampaanku yang sebenarnya. Aku menyukainya, tetapi sengaja aku tidak memperlakukannya dengan mengistimewakan dirinya. Toh kalo bukan jodoh ya sudah, kalo jodoh yasudah. Ya, tapi aku tetap mengistimewakannya di dalam hatiku. Kutulis beberapa tulisan untuknya, sampai pada suatu saat dia merecehkanku. Aku yang terlalu memaku perspektif yang berlebihan, atau mungkin memang datang tanda waktunya menjauh. Nama yang tertera dalam buku catatanku, mendadak menusuk tajam balik ke arah pandanganku seolah merobek logikaku yang tak mampu menerima bahwa mungkin dia tidak cocok bagi diriku. Aku meminta seorang teman tuk menghapus namanya, menghapus seseorang dari perasaanku hanya sesederhana itu, terkadang. Namun hal yang tidak bisa kumunafiki adalah bahwa aku memunafiki diriku sendiri jika aku sudah menghapus dirinya. Lalu aku berpikir, jika penghapus takkan mampu menghapus sepenuhnya, mungkin bara api bisa menghilangkan semua kenangan itu. Ternyata dugaanku salah besar, selembar kertas berisi tulisan puitis itu tetap menyisakan sesuatu walau telah dijilati bara api. Mungkin memang tidak ada hal yang bisa dihapus sepenuhnya, termasuk perasaan. Demikian, kututup hari ini dengan membakar puisi cintaku, kuwarnai hariku dengan remahan abu surat itu.
-Kamis, 27 April 2017-

Karena aku seorang pemikir~

Aku melihat seseorang yang sepuh nan teguh.
Berjalan dengan tunduk tanpa mengeluh.
Menjejak tanpa ragu dan semakin menjauh.
Parasnya menegaskan tak seperti insan yang angkuh.

Kuamati beliau yang menurutku "tampak" fakir.
Jalannya nampak seperti sambil berpikir.
Geraknya juga sambil berpikir.
Bernapas pun selalu tampak berpikir.
Lama-lama kutersadar bahwa jiwaku yang kikir.
TIDAK, TERNYATA BELIAU TAK FAKIR!

Berjalannya adalah sambil berpikir kemana arah jiwa dan raganya dibawa tuk menuju sesuatu yang disebut "kemuliaan".
Geraknya berpikir untuk melakukan perubahan dan kebermanfaatan seperti apa ke depan.
Bernapasnya adalah memikirkan kematian, ya. Kematian bisa datang kapan saja, entah kapan amanah ruh ini akan diambil kembali.

Ada orang yang terlihat cerdas namun tak begitu berilmu.
Ada yang biasa saja namun begitu berilmu.
Aku yang mana? Tidak, jangan-jangan lebih buruk dari dua pernyataan itu.
Bukan karena aku tak cerdas.
Bukan karena aku tak berilmu.
Tapi mungkin karena aku kurang "berpikir".

Sedikit diberi nikmat kecerdasan saja aku sudah terlena.
Sedikit ilmu yang hanya bagai satu tetes air dibanding air di lautan saja aku sudah sombong.
Katanya padi semakin berisi semakin merunduk, apakah harus menjadi seorang yang sepuh dulu baru dikatakan padi yang berisi?
Lalu, seorang pemuda sepertiku harus apa? 
Ya mungkin harus selalu berpikir, karena aku seorang pemikir~

Selasa, 25 April 2017

Bangkitlah Pemuda!

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk refleksi diri untuk pemuda terutama mahasiswa mengenai gejolak dari masa lampau sampai era reformasi yang masih berjalan sampai saat ini...

Tahun 1908, berdirilah sebuah organisasi yang menjadi tonggak awal pergerakan nasional, wadah pergerakan pertama di Indonesia yang disebut Boedi Oetomo. Pada tahun ini, semangat kebangkitan pemuda untuk membebaskan nusantara dari jajahan belanda mulai muncul. Organisasi ini sekaligus menjadi batu loncatan dalam menghidupkan api semangat yang lebih besar untuk memerdekakan tanah air Indonesia.

Tahun 1928, para tokoh dan beberapa pemuda berkumpul untuk mendeklarasikan sebuah sumpah bernama Sumpah Pemuda untuk mengentalkan darah juang dan jiwa sejati pemuda Indonesia.

Tahun 1945, golongan muda bertikai dengan golongan tua untuk menculik Soekarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Masa revolusi 1966 mungkin adalah puncak pergerakan pemuda dalam memperjuangkan nasib bangsa yaitu dengan terlibat beberapa konflik seperti pemberontakan kader PKI sebagai pemusnahan ideologi politik yang dianggap "nyeleweng". Siapa tahu..

Lanjut pada tahun 1998, ketika negara ini kritis dan mengalami kerusuhan karena dilanda krisis parah serta inflasi yang mencekik, suara rakyat dibungkam, maka mahasiswa dikala itu menjadi kesatuan yang solid dalam melengserkan rezim zalim.

Hingga saat ini, waktu terus berjalan...
Di era reformasi yang "mungkin" negara kita sudah bisa disebut "Merdeka" ini, banyak terjadi pergolakan dan revolusi mental dari kaum pemuda.
Sampai-sampai, munculah film "Ada Apa Dengan Pemuda" atau yang saya maksud pemuda di sini adalah "Maha"siswa.
Romantisme film tersebut menggambarkan betapa mirisnya pemuda zaman ini, seperti yang tergambarkan berikut.
Tembakau hisapanmu..
Tayangan percintaan dunia maya tontonanmu..
Pergosipan di medsos bahan diskusimu..
Gadget peganganmu..
IPK Tuhanmu!
Sampai ujian pun mencontek, moral tiada, nilai basi, gerakan pun mati. 
Apakah hidup kita sebagai mahasiswa hanya dikhususkan untuk mencari nilai?
Patut kita telusuri dan renungkan lagi tugas mahasiswa apa saja, menuntut ilmu memang adalah keharusan, namun apakah "hanya" menuntut ilmu saja tanggung jawab kita?

Buang rokokmu, simpan uangmu untuk menabung atau investasi bermanfaat.
Bacalah, agar kau bisa melihat kekayaan ilmu lewat "jendela dunia".
Menulislah, agar kau bisa menyampaikan gagasan, pengalaman, serta emosi jiwamu kepada orang lain.
Jika perlu, berpidatolah dengan lantang di suatu momen agar kau bisa merangkul hati orang lain dengan emosi yang kau tuturkan melalui rangkaian kata yang terucap.
Sehingga kiranya, pada tahun berapa lagi "Pemuda" akan menunjukkan taringnya?

Bangkitlah Pemuda!

Senin, 24 April 2017

Obrolan Receh Ikan Laut

Hari-hariku di kampus diisi dengan canda tawa bersama sahabat-sahabatku seperti biasanya, diselingi saling memaki, saling menghina, gontok-gontokan hingga bunuh membunuh itu sudah hal biasa. Menurut filosofi sederhanaku, jika kita masih ada rasa sungkan antar individu berarti itu hanya hubungan teman biasa, jika sudah mulai berani lempar canda diselingi makian, mulai muncul benih benih persahabatan. Apabila sudah mulai gontok-gontokan, itu bisa dikatakan sebagai sahabat sejati. Namun, itu masih belum dikatakan sebagai persahabatan sesungguhnya. Logika sederhanaku mengatakan, tingkat pertemanan tertinggi adalah pembunuhan.

~Just Kidding~

Dimulai dari canda dengan sedikit mengejek (guyonan), saya menghina teman saya yang tidak punya pasangan dan sedang bersedih atau zaman kerennya sekarang disebut jones. "Lapo kon bersedih iku, ikan di laut sek akeh" tukasku. Dia menjawab, "Ya tau, tapi gak gitu Do maksudku". Lalu aku menjawab, "Lah, kan ikan di laut masih banyak. Ngapain kamu mengkhawatirkan kekurangan pasangan di luar sana? Oh aku tau, walaupun ikan di laut sana melimpah, tetapi hanya beberapa yang bernilai tinggi dan istimewa. Sedangkan rumah rumah ikan istimewa tersebut telah banyak yang dihancurkan sehingga mengganggu ekosistem dan tempat memijah ikan tersebut sehingga populasi menurun karena hal tersebut..." Temanku hanya menjawab, "Hmm..."

Ibaratnya adalah, teman saya kecewa karena orang istimewa yang dia sayangi "mungkin" telah dirusak oleh sesuatu yang lain. Walaupun masih banyak yang lain di luar sana, namun yang benar benar bernilai di matanya sementara ini mungkin masih terlihat satu sedangkan yang lain belum terlihat. Mirisnya lagi adalah, orang yang bagi teman saya dulu istimewa, sekarang sepertinya sudah dirusak oleh budaya baru berupa mesin inkubator yang bernama lingkungan. Bagi ikan, mungkin dia tidak sadar kerusakan lingkungan akan berdampak seperti apa padanya, namun semua baru sadar jika sesuatu hal sudah terjadi. Jadi intinya adalah, bunuhlah temanmu jika kamu merasa temanmu adalah konco kentel. Karena tingkat tertinggi pertemanan adalah pembunuhan...