Kamis, 17 Mei 2018

Heran

Ada kisah tentang seorang ayah dan anak. Sang ayah adalah seorang petinggi bank yang sukses dan terkenal, seorang produsen di bidang musik, serta memiliki usaha sampingan tempat karaoke. Anaknya seorang yang sederhana, tidak suka jalan-jalan, suka ngaji, dan rajin sholat di masjid.
Suatu ketika si ayah muring-muring karena si anak berhenti dari hobi bermain musiknya dan tidak mau diarahkan kerja di bank selepas lulus kuliah nanti. Si ayah berkata, “Nak, Ayah ini heran. Teman-teman Ayah di kantor banyak yang Ayah didik dari nol sampai sukses. Mendidik mereka rasanya mudah dan orang lain saja bisa berhasil, masak anak Ayah sendiri yang lebih sering ketemu malah tidak bisa seperti itu?”  
Si anak lalu menjawab, “Aku  juga tidak tahu Yah, aku juga heran. Temen-temenku aja yang dulu pacaran, suka main musik sampek meninggalkan kewajiban, bahkan ada yang males sholat, tak bilangi langsung terbuka hatinya terus berubah. Ini keluarga sendiri diajak kebaikan kok susah sekali, pas bilang yang bener secara baik-baik kok malah bilang aku anak yang aneh?” Mereka sama-sama heran sampai keturunan generasi ketujuh dari cucu sang anak lahir.

#CeritaFiksi

Selasa, 15 Mei 2018

Apa itu Teroris?

Akhir-akhir ini sedang gempar berita serangan yang dilakukan oleh teroris di kota Surabaya. Aku penasaran tentang apa sebenarnya arti teroris, lalu aku mencari di google untuk menemukan jawabannya. Menurut KBBI, “teroris” berasal dari kata “teror” yang artinya usaha menciptakan ketakutan, kengerian, kekejaman oleh seseorang atau golongan yang mengganggu orang lain. Teroris berarti orang yang melakukan hal tersebut. Aku lalu bertanya-tanya, apakah benar mereka merupakan teroris seperti yang diberitakan? Barangkali media berbohong seperti biasanya, atau mungkin ada pihak yang ingin menggiring opini, pengalihan isu, atau memang sang teroris ingin membuat citra buruk terhadap salah satu agama untuk menciptakan ketakutan dengan membunuh orang tak bersalah. Hanya Allah dan orang yang disebut teroris itu sendiri yang tahu maksud biadab tersebut.
Berbicara tentang teroris, aku berpikir bahwa apakah tindakan menakut-nakuti, kejam, menyebabkan rasa ngeri dan mengganggu hanya dikhususkan penyebutannya untuk orang yang membawa bom lalu bunuh diri di tengah orang-orang ramai? Seperti itu kah? Aku masih tidak paham, jadi kucari lagi poin yang ingin kuketahui di internet. Setelah mencari, ternyata kutemukan bahwa contoh dari tindakan yang jahat tersebut bukan hanya membawa bom lalu bunuh diri di tengah keramaian. Realita dari mindset orang Indonesia yang sering aku tahu, kebanyakan selalu melihat hal yang nampak besar, tapi lupa akan rentetan masalah kecil yang bisa lebih membahayakan dari masalah yang tampak besar. Yah, tindakan seperti merokok yang merugikan lingkungan dan kesehatan orang lain, berkata kotor sehingga menyakiti orang lain, aksi ugal di jalan yang menyebabkan pengendara lain terkadang ketakutan (terutama jika korbannya perempuan), koruptor yang kejam karena mengambil uang rakyat, serta perbuatan biadab lain ternyata termasuk dari penerapan tindakan aksi teror ringan yang banyak orang lain tak mau renungkan. Kalau dilakukan oleh seseorang atau kelompok, berarti mereka layak disebut teroris? Jika benar, maka aku sangat senang terutama dengan datangnya bulan ramadhan kali ini, karena aksi-aksi teroris itu pasti menurun, harapannya. Setidaknya untuk sebulan kedepan.
Mereka yang melakukan hal-hal demikian, seringkali menggangguku, keluarga, dan juga temanku. Aku sering menegur orang yang merokok dan berkata kotor di depan atau di sekitarku, hanya respon “bodoamat” dan lontaran macam-macam jenis makian yang kudapat. Oh, berarti pantas kalau mereka kusebut “teroris”. Aku mulai melabeli mereka dengan cap “teroris” karena mereka mengganggu, bisa menciptakan ketakutan, bahkan ada orang yang tidak suka sehingga merasa risih dan ngeri jika berada di sekitar mereka. Itu hanya contoh kecil dari kejadian yang kualami. 
Perbuatanku yang demikian ternyata malah menjadikan aku dianggap pengganggu karena tindakanku menyebut mereka teroris, maklum saja mereka tidak diterima. Aku berpikir, mungkin analisisku terhadap siapa teroris itu sebuah kesalahan. Pola pikirku untuk menciptakan sebuah kesimpulan sangat buruk, mungkin. Aku menyebut mereka teroris, tapi tindakanku terhadap mereka malah juga dianggap mengganggu, menakut-nakuti (jika perokok diingatkan akan dampaknya), seperti kaum kejam intoleran. Aku harus bisa memposisikan diri, kiranya sebelum berucap atau menulis harus membayangkan apakah orang lain tersakiti atau tidak dengan tindakanku. Tapi kebingunganku belum terpecahkan, di luar dugaanku yang menyebut orang-orang itu sebagai teroris, namun intinya tetap siapa sebenarnya di sini yang memenuhi kriteria untuk disebut teroris itu? Kalau mereka bukan teroris, lalu siapa teroris? Kalau tindakanku yang menegur justru dinilai sebagai pengganggu bagi orang-orang yang merokok, berkata kotor, ugal di jalan, dan bersikap zalim terhadap orang lain, apa teroris itu aku? Jangan-jangan selama ini aku mencari tentang apa dan siapa itu teroris, ternyata teroris itu aku!
Bisa jadi karena nalarku yang cukup buruk, akalku yang dangkal, menjadikanku seorang teroris yang orang bilang biadab. Maka di postingan ini, aku tidak ingin menampakkan wajahku, karena sepertinya saat ini banyak pihak yang sedang mengejarku. Bukannya aku takut pada densus 88, tetapi aku takut pertanggungjawabanku nanti di hadapan Sang Pencipta jika aku banyak menzalimi ciptaan-Nya. Yang disebut teroris bukanlah orang-orang yang agamanya sama dengan pelaku bom bunuh diri, tetapi orang yang menzalimi orang lain. Ya, teroris adalah aku...
#PrayforSurabaya
#SelamatDatangRamadhan
#Alhamdulillah






Sabtu, 21 April 2018

Muhasabah Diri


   
     Buku saya telah habis. Terbayang sebelumnya bahwa, tidak mungkin rasanya menikmati hembusan angin senja di pantai ini tanpa buku. Jadi, beberapa hari sebelum pergi ke Jawa Tengah, saya sempatkan tuk mampir ke toko buku. Pandangan mata saya langsung menyapu rak-rak yang berjejeran, menyibak indahnya lembaran-lembaran ilmu kehidupan itu. Sampai akhirnya perhatian saya tertuju pada buku berjudul “Dahsyatnya Neraka” yang ditulis oleh Syaiful Bachri az-Zidani. Saya ambil dan saya beli, tetapi karena saat itu tidak ada uang, maka saya berhutang pada teman dan saya bayar di kemudian hari. Itulah salah satu pengorbanan demi ilmu.
     Saat sudah separuh jarak perjalanan berangkat, fokus pada buku yang saya baca terhenti di halaman 66. Tertulis hadits, “Wahai Manusia, menangislah kamu, jika tidak bisa menangis, maka pura-puralah menangis. Sesungguhnya, penghuni neraka itu menangis di dalam neraka sampai air mata mereka jatuh ke pipinya hingga habis. Kemudian, setelah air matanya habis, maka keluarlah darah dari matanya. Sehingga, karena air mata itu terus mengalir tanpa henti, perahu bisa berjalan di atasnya.” (HR. Hakim).
      Kalut hati ini. Perasaan saya seketika bergejolak tidak karuan, rasa damai yang hadir sebelumnya langsung saling tindih dengan rasa takut. Betapa pelupanya manusia. Terkadang jika tertawa, lupa bahwa suatu hari nanti bisa saja kita akan menangis sangat lama, atau mungkin menangis tak berhenti. Terlalu lama akal ini pingsan, tak pernah sadar betapa banyak konsekuensi yang menunggu dari setiap tindakan menyimpang. Desis angin dan suara deburan ombak tiba-tiba tak terasa, tergantikan sunyi yang berani bertamu dalam lamunan. Senyap, raga ini menjadi seperti tak bertuan. Akhirnya, hanya renungan yang hadir, walau sesaat. Momen terakhir yang indah di pinggir pantai Kartini, sebelum pulang dan bermimpi di balik selimut hangat.
(Jepara, 3 Sya’ban 1439 H)

Minggu, 18 Februari 2018

Jihad di JalanMu

       Jalanku tiba-tiba terasa berat, tiada waktuku yang kulalui dengan terasa nikmat. Kebebasan seolah tak mau menghijabi jiwa ini. Rasanya terlalu lama aku tersungkur dalam kejenuhan pikiran. Lelah fisik maupun batin, tak henti-hentinya hinggap pada pribadi yang lemah ini. Lama-kelamaan terpikir olehku, bagaimana cara untuk menikmati hidup jika aku terus begini? Bagaimana aku bisa berfokus pada ibadah jika hidupku terasa berat dan tak bisa kunikmati? 
      Perlahan, perlahan, masih perlahan, dan tetap perlahan aku menjelajahi tiap momen dalam hidupku menggunakan akal pikiran. Rupa-rupanya ada sesuatu yang lama belum kukenal, setelah tahu nama itu maka hidupku mulai berubah. Sesuatu yang baru kukenal itu bernama jihad. Entah kenapa, setiap yang kulakukan terasa sia-sia sebelum aku mengenal kata itu. Mengerti makna jihad memberiku rasa nyaman, setidaknya berusaha itu tak ada yang sia-sia. Lelah belajar maupun bekerja tidak ada yang tidak mendapat ganjaran. Hilang rasanya pikiran yang selama ini hanya mengeluh, menagih, dan tak kenal bersyukur.   
       Kuncinya diawali dengan niat yang lurus, setelah itu yakinlah bahwa usaha yang dilakukan Lillahi ta’ala, yang ikhlas hanya karenaNya pasti akan mendapat balasan kebaikan yang besar. Jenuhnya belajar, lelahnya bekerja, dan sakitnya proses berusaha untuk menggapai semua itu insyaAllah akan bermanfaat untuk diri kita apabila kita jalani dengan ikhlas disertai sabar untuk menggapai ridhoNya. Memasuki ujung semester perkuliahan ini, semakin banyak cobaan yang harus kuhadapi. Itu semua tentunya terasa sulit sampai jihad ini bisa termaknai dengan sempurna di hati dan pikiranku. Bukankah tiada suatu kelelahan di jalan Allah, melainkan nantinya rasa lelah itulah yang akan menjadi penghapus dosa dan akan menjadi amal baik kita kelak saat kita dimintai pertanggungjawaban kehidupan di dunia? Ya Allah, ridhoilah hambamu ini untuk berjihad di jalanMu...
'2 Jumadal Akhir 1439 H'

Sabtu, 17 Februari 2018

Pesta Pemikiran

Aku sering berpikir
Berpikir tentang sesuatu
Sesuatu yang itu seharusnya
Seharusnya tak disentuh pemikir

Tetapi...

Aku bingung
Bingung sekali denganmu
Denganmu, kubisa jelajahi tiap jengkal
Jengkal yang tak pernah bisa bebas dari sorot

Sorot itu dapat menggambarkan
Menggambarkan banyak buah-buah arti
Arti-arti yang sangat dalam di setiap momen
Momen berharga yang tersaji dalam kehidupan

Sebaiknya kau jangan terlalu
Terlalu sering untuk digunakan
Digunakan untuk selalu membuatku
Membuatku masuk terlena semakin dalam

Dalam untuk tenggelam
Tenggelam dalam nikmatnya kehidupan dunia
Dunia yang hanya sesaat
Sesaat saja, tolong selalu sempatkan untuk mengingatkan aku
Aku yang hanya hidup "cuma sebentar"

Usaha

Aku selalu mencoba serius
Walaupun masih tak becus
Masalahnya aku terlalu haus
Yang membuat imanku tergerus

Komitmenku mulai terhunus
Namun lagi-lagi pupus
Padahal menjaga dirimu dengan menjarak itu harus
Supaya nantinya tak ada yang hangus

Jumat, 16 Februari 2018

Menggoda si Merah Jambu

Jangan baca tulisanku
Aku malu
Dan kau pun tak akan mau tahu

Hai kau
Gadis berparas ayu
Maukah kau berdansa denganku
Sepertinya gimikmu malu-malu
Walau sebenarnya mau
Tapi tunggu dulu
Tadi aku cuma mengujimu
Mana mungkin aku segenit itu
Kucuma suka menggodamu
Nanti saja kita habiskan waktu di sendang biru
Sambil kuambilkan kelapa untuk kau minum bersamaku
Tentunya saat kusudah menghalalkanmu
Sementara kau menunggu, jagalah kesucianmu
Saat ini lebih baik kita jangan bertemu dulu
Jaga dirimu sampai tiba si waktu
Tak baik kumendahuluimu
Karena aku tak ingin hubungan yang semu
Tanpa sadar itu menzinaimu
Hal ini kulakukan beralasan sesuatu
Asal kau tahu
Ini karena aku mencintaimu
Si manis dengan bibir merah jambu

Kamis, 15 Februari 2018

Tempat yang Dirindukan

Simaklah tulisan ini sejenak. Khusus kupersembahkan untukmu, Saudaraku.

Mohon maaf, bukannya saya mengutuk keburukan karena adanya keindahan. Saya menyukai keindahan karena Tuhan saya dan utusanNya menyukai keindahan.
Mohon maaf, bukannya saya anti terhadap perkataan kotor karena hal tersebut banyak dinilai sebagai keburukan. Saya hanya “mencoba” berkata yang baik karena Tuhan saya dan utusanNya menyukai perkataan yang baik-baik.
Mohon maaf, saya tidak pernah diajari untuk menghina siapapun. Saya hanya diajari untuk tidak banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati. Logika saya masih tergolong kurang hidup untuk mencari kebenaran, kebenaran yang sejati, kebenaran yang diridhoi, bukan pembenaran yang tidak diridhoi. Apa jadinya kalau logika saya nantinya mati, hati saya pun juga ikut mati. Saya hanya “mencoba” untuk menjaga agar logika dan hati saya dapat tetap hidup sebelum saya yang mati, agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
Mohon maaf jika terkadang saya terlalu asertif, tapi sikap ini hanya didasari karena dalamnya kepedulian dan cinta. Kepedulian dan cinta yang orientasinya tidak hanya untuk di dunia.
Kalau saya salah, tolong selalu diingatkan supaya selalu kembali pada jalan kebaikan.
Bukannya kita menunggu dan berharap untuk berada di tempat yang penuh keindahan itu? Kalau orang bilang, “waktu adalah senjata terkuat untuk menghapuskan keindahan”, maka saya sangat tidak setuju. Menurut saya, waktu adalah senjata terkuat untuk mempersatukan kita di keindahan sejati yang sesungguhnya. Saya harap, kita dapat dibersamakan di tempat yang dirindukan itu, Saudaraku. Semoga.
(Aldo L. Arief)
'30 Jumadal Awwal 1439 H'

Rabu, 14 Februari 2018

Coretan Orang Lusuh



“Saya tidak terlalu suka cabai, karena rasanya pedas dan menyakitkan. Saya lebih menyukai jamu, karena walaupun pahit tetapi dapat menyehatkan”
.
Tulisan lama pada foto di atas yang sering saya baca berulang kali sampai tuntas, selalu saja mengena di hati dan pikiran saya. Maknanya selalu tajam dan membekas karena menancap dalam di sukma keapatisan ini. Najwa Shihab memang jago membombardir saya lewat tulisan maupun perkataan. Saya menyoroti “kontribusi” dalam hal ini, bukannya saya tidak pernah berusaha untuk berkontribusi, hanya saja saya ingin para intelek muda yang membaca ini nantinya dapat lebih maksimal dalam menjalani hidupnya sebagai seorang “mahasiswa”. Saya yang saat ini (merasa) sebagai mahasiswa semester akhir (semoga saja memang yang terakhir), merasa kurang berkontribusi dalam hal apapun dan kepada siapapun sewaktu menjadi mahasiswa selama ini. Waktu adalah pembunuh yang membatasi saya, mirisnya waktu tak bisa diulang dan “penyesalan” tidak pernah tidak ikut mengiringi jalannya sang waktu. Kalaupun saya bisa mengulang waktu yang tercecer, ya mungkin belum pasti rekam jejak saya akan menjadi sempurna, tapi pasti saya akan berusaha lebih. Tapi, daripada kurang puas atau menyesal dan mengeluarkan omong kosong seperti ini nantinya, saya himbau kepada mahasiswa yang masih punya banyak waktu, untuk berkontribusi sebanyak-banyaknya kepada diri sendiri, orang lain, maupun tempat dimana Anda berada. Jika mahasiswa belum mempunyai niat dan semangat untuk “berkontribusi”, bahkan tidak sempat terpikir dalam benaknya, maka ruh mahasiswanya mungkin sudah tercabut dari raga berbatin keras itu. Kontribusi memang tidak harus saat menjadi mahasiswa saja, tapi mahasiswa punya akses dan kesempatan yang besar untuk “berkontribusi”.
.
Mau nyanggah dengan secangkir kopi boleh, tapi tidak untuk teman si kopi. Tempatmu tidak ada di sini. Bukannya saya menganggap buruk, saya menganggapnya baik kok karena beberapa dari Anda bisa senang dengan itu, hanya saja kerabat saya pernah sakit bahkan meninggal karena si rok*k, dan keluarga serta teman dekat wanita saya (berharap kalau saya bisa punya) juga tidak setuju jika saya bermesraan dan bercumbu dengan rok*k.
.
Kalau ingin berpikir untuk mengetik pernyataan yang bersifat tidak setuju dengan nilai yang ada pada tulisan ini, bisa disampaikan langsung dan nanti akan saya konsultasikan ke beberapa dosen yang saya kenal untuk menanyakan bagaimana seharusnya pembenaran (eh kebenaran maksudnya) nilai kehidupan yang nantinya pendapat lain itu akan saya berikan kepada Anda dan Anda pun boleh ikut, kalau berani. Karena sepertinya jika dilihat dari pandangan Anda, mahasiswa seperti saya selalu salah dan hanya dosen yang benar (atau dosen Anda anggap benar karena Anda tidak mampu berargumen lain, atau karena Anda hanya berani ngomong kesalahan di belakang).
.
Ngomong-ngomong, kalau penasaran tentang gambaran dan cara kontribusi yang dimaksud seperti apa, silakan mencoba untuk menggunakan senjata andalan Anda yang sering Anda gunakan untuk membela argumen diri sendiri dari guncangan orang lain, yang sering Anda gunakan untuk mencari kebenaran maupun pembenaran, senjata yang sering Anda bangga-banggakan untuk menolak kebenaran sejati saat kebenaran itu datang kepada Anda (akal). Silakan berpikir.
.
“Saya memelihara Ibu kucing dan beberapa anaknya, walaupun anaknya bertengkar dengan kucing liar yang warna bulunya sama persis, wajah yang juga terlihat sama pun, tetap bisa mengetahui yang mana anaknya dan mana yang harus dibela”

Senin, 12 Februari 2018

Ada Apa Lagi?

Ada apa lagi?
Umat kok kacau
Ada apa lagi?
Dimana mana kok saru
Ada apa lagi?
Di sana sini kok menggerutu
Ada apa lagi?
Masak harus kuturuti semua maumu

Daripada bingung dalam dilema
Aku mau menulis sesuatu
Yang kau belum tentu suka
Tapi kubersumpah atas ketulusan kalbuku

Pagi ini cerah
Senjata telah tersiapkan
Lihatlah, si kertas memancar dengan penuh gairah
Sang pena sudah bersiap tuk menggoreskan

Tiap maha bersiap menuntut ilmu
Ikat sepatu mereka kencangkan
Bersiap menitih sejarah baru
Pamit orang tua jangan dilupakan

Semoga semangat belajar
Jangan lupa amanah utama
Jika ada halangan jangan gentar
Karena kalian penerus bangsa

Biar hari esok
Indonesia tidak terus begini
Biar hari esok
Kesedihan tidak terus terpatri

Minggu, 04 Februari 2018

Kegelapan di Sudut Sana

Dialah manusia termulia
Pembawa risalah dari Tuhannya
Penghilang gundah gulana
Penyebab rindu pengikut setianya

Jika ingin lurus maka pelajari ajarannya
Tetapi, jangan lupa mengamalkannya
Karena itu sebagai penyejuk jiwa
Menenangkan yang gegap gempita

Dengannya bersemilah takwa
Mengiringi liarnya logika
Semua tersirami dengan cahaya
Kecuali, kegelapan di sudut sana...

Selasa, 23 Januari 2018

Untukmu, yang Setia Memperhatikanku

Kau punya sesuatu yang ingin orang lain agar mengerti
Tapi kau berbicara terlalu keras atau terlalu tajam
Kalau tak bicara, menulispun menyakiti dan tak enak dibaca
Akhirnya, orang jadi takut dan malas menanggapi (walau sekadar mencoba mendengar ataupun membaca)
Apa yang kau lakukan hanya menjadi hal tak berguna
Kicauanmu gak penting jadinya
Tapi gakpapa...
Kayaknya kamu senang kayak gitu
Aku sih miris.

Minggu, 10 Desember 2017

Orang Idealis Dilarang Membaca

Saya merenung pada kegagalan diri, bertanya-tanya entah pada siapa. Akhir zaman ini, banyak orang mengingatkan orang lain dengan caranya, mungkin tidak selalu menggunakan cara terbaik namun sering mereka katakan dengan “caranya”. Ada yang dengan emosi kemarahan, menggunakan kata kotor atau kata kasar, mengkritik di depan umum dengan nada keras dan menyinggung, sampai membuka aib orang lain, mengatakan alasannya demi untuk pembelajaran orang lain, lalu mereka melindungi caranya dengan pembelaan “ya ini caraku”, “ya biar ada dinamika”, “ini idealismeku”, dan lain-lain. Kalau kita tinjau kembali pada cara Rasulullah, yaitu tutur kata serta perbuatannya, beliau adalah pendakwah yang lembut. Tidak pernah berkata untuk menyakiti seseorang, menutupi aib saudaranya, menasihati orang dengan tidak kasar dan tidak mempermalukan di depan umum, tidak keras kepala, jika dakwahnya gagal maka beliau mengevaluasi diri sendiri bukannya orang lain, jika cara beliau dikritik maka beliau tidak akan mengkritik balik orang lain, melainkan menerima dan senantiasa memperbaiki caranya. Bayangkan, orang termulia dengan cara terindah seperti itu saja, di zaman dahulu yang belum seperti sekarang, masih saja tidak sepenuhnya dakwah beliau diterima. Masih ada tentunya orang-orang yang tidak mengakui dan bahkan menolak secara terang-terangan. Jika melihat akhir zaman seperti sekarang, dimana pengikisan nilai-nilai luhur telah banyak terjadi, jika tidak mengikuti cara Rasulullah melainkan menggunakan cara yang keras, kasar, atau tidak lemah lembut, pertanyaannya apakah kemungkinan bisa lebih berhasil kalau kita ingin menyampaikan kebaikan itu? Ataukah memang kita sebenarnya sudah tahu jika terkadang cara kita kurang efektif, tetapi ada niat lain di situ yaitu hanya ingin memuaskan hasrat ego semata? Oh, saya harus berbenah diri. Saya juga tidak mengatakan diri saya orang baik, saya hanya senantiasa berusaha ingin menjadi lebih baik.