Kamis, 04 Oktober 2018

Memahami Tujuan Hidup

Satu-satunya orang yang paling butuh nasihat saat ada untaian nasihat adalah diri sendiri. Ya, diri saya sendiri yang sebenarnya selalu paling butuh nasihat sekaligus pengingat. Kenapa harus sering diingatkan? Karena saya adalah seorang PELUPA!
Bahkan sampai detik ini hidup, saya sering LUPA tujuan. Saya sering mengira bahwa hidup ini untuk mencari banyak uang, saya sering kira hidup untuk mencari pasangan yang cantik, saya sering lupa jika wadah pendidikan yang selama ini seharusnya digunakan untuk ibadah, malah saya gunakan hanya sekadar mengutamakan untuk mencari prestasi, ipk, jabatan organisasi, dan gelar yang prestisius, sehingga dalam pencarian nilai dan hasil pendidikan, beberapa kali pernah saya tempuh dengan cara yang curang!
.
Salah satu inspirator saya pernah berkata, “Hidup tergantung tujuan. Kalo hidup inginnya jadi pesepakbola, begitu kalah saing dengan pemain lain dan karirnya redup, dia akan frustasi pada kehidupannya. Jika cita-cita jadi artis (penyanyi, pesinetron, pemain film, pelawak, dll), ketika pamornya turun maka dia merasa hidup tak ada gunanya. Jika hidup ingin kaya, maka ketika dalam kondisi kekurangan, dia akan merasa dirinya gagal, proses belajarnya gagal, bahkan sampai menganggap hidupnya gagal. NAMUN BEDA JIKA ORANG SELALU INGAT HAKEKAT TUJUAN HIDUPNYA, segagal apapun dalam urusan dunia, maka perkembangan kualitas hidupnya akan terus meningkat untuk mempersiapkan dirinya di dunia bahkan di akhirat”
#MuhasabahDiri
#RenunganBersama
#SelfReminder
‘24 Al-Muharram 1440 H'

Minggu, 30 September 2018

Sebuah Tujuan

Tujuan kita jangan dunia, dunia itu hina. Tujuan kita jangan materi, materi itu kecil.
.
Begitu pula tujuan utama seorang sarjana, terlalu rendahan jika “hanya” menetapkan lulus kuliah ingin mendapatkan dan berbangga-banggaan dengan cap ipk tinggi, banyak penghargaan lomba, atau diakui sebagai mantan petinggi organisasi. Bukannya hal-hal tersebut tidak penting, ipk tinggi dkk itu penting dan wajib harus kita targetkan, tapi jangan salah mengutamakan prioritas tujuan dan malah mengabaikan tuntutan dasar pada gelar sarjana. Seorang sarjana tentu telah melewati tahun yang panjang untuk sekolah serta menghabiskan uang yang banyak untuk membayar biaya sekolah. Berapa tahun kita sekolah? Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, atau jenjang pendidikan yang sederajat sampai kuliah sekalipun, coba hitung berapa hari kita ditempa dan berapa banyak uang yang keluar.
TK diajari guru, SD, SMP, SMA juga diajari guru yang pintar dan kompeten di bidangnya, kuliah diajari dosen lulusan S2, S3, sampai profesor, dari pengajar lulusan dalam negeri sampai luar negeri sekalipun, dan mereka juga termasuk orang-orang yang kompeten di bidangnya. Lalu kita tidak meresap pelajaran dari mereka sehingga menjadikan diri ini pribadi lebih baik? Butuh diajar orang seperti apa lagi supaya kita bisa menjadi lebih baik?
Dan lagi, kalau sampai saat ini juga, kenikmatan diberi kesempatan sekolah bertahun-tahun tidak bisa menjadikan kita setidaknya sebagai pribadi yang bermoral, kalau berjuta-juta harta yang tergelontorkan untuk menyokong pendidikan kita selama ini tidak menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik, maka butuh berapa tahun dan berapa banyak materi lagi untuk membentuk kita menjadi pribadi yang baik?
.
Excellence with Morality, begitu besar kan Pak Rektor, harapan yang Anda inginkan untuk lulusan UNAIR? Sudah lama tak berkunjung ke sana, semoga suatu hari bisa ke rumah Bapak lagi seperti dulu..
.
Terima kasih UNAIR dan FPK UNAIR.
 '20 Al-Muharram 1440 H’

Sabtu, 08 September 2018

Bismillah

Saat nasihat dianggap muslihat..
Saat bicara dianggap durhaka..
Tetapi,
Mohon maaf sebelumnya, saya hanya berniat berbagi, insyaaAllah yang ini sudah berusaha dilakukan, dan tidak berniat yang lain, terpenting semoga tidak ada yang tersakiti. Semoga selepas ini, kelak tak ada tuntutan menegangkan yang terjadi pada saya. Beberapa hari kemarin ada pelajaran tentang amal jariyah, yaitu perbuatan baik yang pahalanya terus mengalir walaupun orang itu tidak melakukan perbuatan baik atau walaupun sudah meninggal sekalipun. Waktu itu temanya sosmed, membahas tentang wanita yang menyebar foto dengan tidak menutup aurat, apalagi yang tampak menggoda dan disebar di sosial media. Biasanya hal begini identik dengan wanita. Saya yang dangkal ilmu, menyindir teman wanita saya.
“Hayo kamu, bahaya lho fotomu. Hati-hati, haha”.
Saya langsung ditegur yang lain, “hey kamu (Aldo), jangan pikir dirimu bebas dari dosa macam itu. Coba cek sosmedmu!”.
Setelah saya cek, walaupun saya tak menyebar foto diri yang tak menutup aurat di sosmed, ternyata banyak foto saya bersama teman saya yang tidak menutup aurat. Ternyata itu maksudnya, saya seketika itu langsung resah. Sempat terpikir, eman juga menghapus foto yang banyak jumlah likenya. Jumlah like/love kan bisa melambangkan tingkat popularitas, apalagi foto dengan jumlah like paling tinggi di antara postingan lain, kan eman kalau dihapus. Tapi saya percaya, akan ada ganti yang lebih baik. Setelah selesai berpikir bulat, langsung saya hapus foto bareng teman yang tak mengenakan pakaian sesuai syariat, yang saya sebar di akun media sosial. Saya diingatkan, karena selain adanya amal jariyah, ada juga dosa jariyah (dosa yang terus mengalir walaupun kita tidak berbuat dan akan dipertanggungjawabkan walau kita sudah meninggal sekalipun). Meskipun diri kita aman, belum tentu foto kita dengan orang lain yang kita sebar di sosial media sudah dijamin bebas dari pertanggungjawaban, dan kita yang turut menyebarkan foto tersebut, akan dihisab juga kelak. Memang sih, walaupun kita sering melakukan dan tak bisa lepas dari dosa, setidaknya jangan beri peluang diri kita untuk menumpuk dosa dengan cara seperti ini. Ibaratnya, seperti orang yang mengatakan merokok tak merokok pun mati. Orang yang sudah sakit akut akibat rokok tuh pasti ingin sembuh, sama seperti orang yang sedang meregang nyawa di rumah sakit, mereka masih hidup tapi mereka tidak ingin sakit bro, mereka ingin sembuh. Tak pantas jika kita yang berpangkat atau berpendidikan tinggi berpikiran rendah semacam ini. Pelajaran penting lain yang harus orang ambil dari kekurangan saya, yaitu saat di rumah jangan lupa dandan dulu, merapikan diri, “ngaca”, pastikan semuanya beres dulu, sebelum benar-benar “keluar” untuk berinteraksi dengan orang lain.
#RenunganBersama

Sabtu, 25 Agustus 2018

13 Dzulhijjah 1439 H

‘13 Dzulhijjah 1439 H’
13 nasihat untuk diri saya, ditambah dengan 1 permintaan :
  1. Kapanpun dan dimana pun, itulah ladang pahala saya.
  2. Dua orang saling menyalahkan, siapa yang terbenar? Yang bisa mengambil pelajaran dari kata-kata lawan bicaranya untuk intropeksi diri
  3. Berusaha tidak memperlakukan orang menyebalkan dengan cara yang juga menyebalkan, agar menjadi tidak sama diri kita dengan orang tersebut
  4. Menuntut lebih kepada apapun yang ada di sekitar lingkungan kita tanpa berusaha memperbaiki diri = Omong kosong
  5. Gagalnya penuntut ilmu adalah yang tak terbangun tata kramanya
  6. Serugi-ruginya ilmu saya, apabila tak bermanfaat
  7. Jika risih terhadap suatu kebatilan tetapi malah diam saja, berarti sesuatu yang batil itu adalah saya sendiri
  8. Jika risih terhadap nasihat orang-orang baik di sekitar saya, berarti ada yang salah dengan diri saya
  9. Lebih baik membenci diri saya sendiri daripada membenci orang lain yang meluruskan saya, walaupun cara orang lain itu benar atau salah. Karena saya percaya, orang ditakdirkan ada di sekitar kita sebagai pelajaran
  10. Saya bersyukur apabila datang orang yang meluruskan saya secara lembut, karena itu berarti Allah tahu hati saya masih lunak
  11. Saya lebih bersyukur apabila datang orang yang meluruskan saya dengan cara yang keras, karena itu berarti saya memang kebablasan tak bisa diberi kelembutan, dan memang itu cara terbaik dari Allah untuk meluruskan
  12. Mengingatkan kebaikan tidak berarti saya sudah sempurna baik, tetapi setidaknya semoga saya bukan disibukkan untuk berbuat keburukkan dan senantiasa diarahkan pada kebaikan
  13. Kritik dan saran harus selalu saya terima sebagai pondasi untuk membangun diri yang “Excellence with Morality”
  14. Jika ada kesalahan pada diri saya, datangi dan bantu luruskan. Apabila ada sesuatu hal tindakan saya yang pernah kurang berkenan di hati Anda, saya mohon untuk dimaafkan.
*Kenapa nasihat diri dishare? Agar yang lain bisa menerapkan intisari nasihat ini

*Lalu apalagi? Barangkali yang lain ada tambahan nasihat untuk saya. Trims.

Jumat, 17 Agustus 2018

Jangan lupa mengambil peran!

Sekadar pengingat, agar jangan bahagia sendiri di hari dengan nuansa heroik ini. Dulu Indonesia pernah terjajah, dulu Palestina pernah membersamai dan mendoakan Indonesia. Sekarang, Indonesia (mungkin) sudah merdeka, tetapi, sekarang juga, Palestina sedang terjajah. Di hari kemerdekaan negeri ini yang ke-73 tahun, pada hari ini sampai detik ini, pada nyatanya sebagian orang masih bingung dengan apa yang harus dilakukan untuk membersamai Palestina. Bingung korelasi antara siapa diri ini dengan peran apa yang mungkin bisa dilakukan. Ada yang merasa tidak bisa melakukan apa-apa, tetapi pada akhirnya menyerah tetap tidak melakukan apa-apa. Sebagian orang, menuntut aksi nyata dari orang lain “apa yang kau lakukan”, “hai kau bisa apa”, “apa kontribusimu sebagai mahasiswa untuk itu”, “bagaimana peran orang pekerja sepertimu untuk membantu mereka” dan lain-lain. Banyak orang berekspektasi tinggi, menuntut lebih, bertopang pada harapan yang tak masuk akal untuk mewujudkan keinginan dengan tidak melihat kapasitas diri. Tetapi, banyak orang justru lupa melakukan apa yang mereka bisa sesuai kemampuannya. Lupa peran dasarnya. Padahal, jika tiap orang memanfaatkan kapasitas yang ada pada dirinya walaupun untuk melakukan hal kecil, jika digabungkan dengan individu lain maka bisa menjadi hal besar. Bahkan lebih heroik dari hari kemerdekaan saat ini. Nyatanya kita hanya melihat ke atas tapi lupa menyadari kesempatan apa yang bisa dilakukan oleh diri sendiri. Padahal, ketika kau buta, kau bisa melakukannya. Ketika kau bisu, kau masih bisa melakukannya. Ketika kau tuli, kau bisa melakukannya. Ketika kau kehilangan kaki dan tanganmu, kau masih bisa melakukannya. Ketika kau tak punya harta benda sepeser pun, kau juga masih bisa melakukannya. Tapi jika hatimu mati, kau takkan pernah bisa melakukannya. Ini adalah kontribusi termudah kita dalam kondisi paling sempit sekalipun. Apakah kita harus bakar-bakar ban untuk menarik perhatian pemerintah untuk membantu saudara kita? Apakah kita harus teriak-teriak di parkiran kampus untuk membantu saudara kita? Apakah kita harus turun ke tengah jalan, menghalang-halangi pengendara yang lewat untuk membantu saudara kita? Apakah kita harus berkata kotor pada dekanat dan pemerintah, serta menempel poster poster berisi “dukung Palestina” dengan cara tanpa bertanggungjawab? Biarlah tanggungjawab pemerintah sebagai tampuk tertinggi untuk melaksanakan tugasnya, jika sudah menyampaikan tanggapan secara langsung, jangan terlampau seperti pemimpin sehingga mengambil alih tugas pemerintah. Biarkan tugas tentara berperang, jika kondisi kita tidak memungkinkan untuk berperang, jangan terlampau heroik dengan ingin ikut perang dan mengatakan “ayo ke sana bantu perang, jangan diam saja”. Lah masuk dan keluar lokasi peperangan saja tidak mudah. Ada hal mendasar yang realistis bagi kita sementara ini, yaitu sudahkah kita mendoakan saudara kita di sana?

Siapa Kita? Indonesia!

Maafkan kami, Indonesia...
Kondisi kami selaku kaum terpelajar zaman sekarang, karena didikan budaya barat dan budaya hedonisme maupun sekulerisme, menjadikan kami lupa identitas diri. Lagak hidup kami saja yang kebarat-baratan dan kebudaya-budayawanan, tetapi sikap rasionalnya tak pernah ada. 
Gerakan kepemudaan hanya terkungkung dalam ide budaya atau kedaerahan yang hanya menjadikan kami primordialisme, yaitu hanya memikirkan suku, golongan, kepulauan masing-masing, lupa akan kesatuan.
Pada perayaan ke-73 tahunmu untuk kita bersama, saya berharap kami selaku penerus generasi bangsa, tonggak-tonggak kehidupan masa depan, agen perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, dapat memberikan aksi dan kontribusinya secara nyata dalam beberapa tahun ke depan. Menjadi pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang, memberantas kebodohan, serta memajukan intelektualitas bangsa dan negara ini. Kami tak mau hanya merdeka fisik, kami juga ingin merdeka secara batin dan pemikiran. 
Siapa kita? Indonesia! 
Siapa kita? Indonesia!
MERDEKA!!!


Sincerely, 5 Dzulhijjah 1439 H
Aldo Lovely Arief Suyoso